Senin, 9 Desember 2019
Home / Opini / Narkoba Merusak Moral Dan Kehormatan

Narkoba Merusak Moral Dan Kehormatan

Oleh: Abu Faisal Ali
Pembina STISNU Aceh

Narkoba merupakan sebuah kata istilah dalam dunia Kesehatan yang diadopsi dari singkatan Narkotika dan obat/bahan berbahaya. Istilah ini tidak dikenal pada masa-masa awal, baik dikalangan umat Islam maupun umat-umat agama yang lain. Islam yang mempunyai dua sumber utama hukumnya yaitu Al-qur’an dan Hadits tidak menyebutkan secara khusus untuk istilah ini, karena memang kedua sumber Hukum Islam itu tidak mengatur secara detail satu per-satu. Tapi persoalan Narkoba dapat didekati melalui pendekatan Qiyas, yakni satu kasus yang tidak ada Nashnya dalam Al-qur’an dan Hadits dicarikan persamaan kasusnya yang hukumnya telah tetap dengan Nash Al-qur’an dan Hadist. Hal itu dilakukan dengan melihat ‘Ilat (motivasi hukum) yang sama atau lebih, yakni sama-sama atau lebih membahayakan.

Dalam Islam narkoba bisa dikatagorikan bahagian dari Khamar, namun dampak bahaya dari narkoba jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan Khamar. Kedahsyatan bahaya Narkoba dalam merusak moral menduduki rangking nomor wahid untuk masa sekarang dan akan datang apabila tidak ditanggulangi secara sungguh-sungguh dan bersama-sama. Penempatan rangking seperti ini bagi Aceh cukup beralasan karena hampir setiap minggu pemberitaan penemuan ladang ganja dan penangkapan kurir dan bos sabu-sabu serta diikuti oleh penangkapan ganja asal Aceh diberbagai daerah di luar aceh.

Aceh bukan hanya daerah penghasil Ganja terbesar di negara ini namun juga tingkat Penggunaan narkoba dan obat-obat terlarang di kalangan masyarakat Aceh akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan bahkan maraknya penyimpangan perilaku ditengah-tengah masyarakat Aceh bermula pada penggunaan narkoba yang pada akhirnya dapat mengancam keberlangsungan Syariat Islam dan Adat Istiadat di daerah ini. Realita menunjukkan bahwa narkoba bukan hanya masalah Ekonomi semata tetapi juga masalah Moral. Rusaknya moral masyarakat tidak boleh dilepas dari andil besar narkoba dan obat-obat terlarang lainnya.

Penggunaan narkoba khususnya ganja di bumi Serambi Mekkah ini telah menghacurkan tatanan kehidupan baik dalam komunitas keluarga dan masyarakat. Beberapa kasus amoral yang muncul ke publik kalau didalami dengan cermat dan menyeluruh sudah bisa dipastikan berhubungan dengan narkoba. Kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menurut data terakhir terus meningkat juga ada kaitan sebahagian kasusnya dengan narkoba. Aceh yang dulunya dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya sangat religius, ramah dan santun, sekarang sudah berubah menjadi terkenal dengan daerah yang masyarakatnya keras dan daerah penghasil Ganja. Ketenaran Aceh tidak berhenti disitu tetapi pada setiap Kuliner yang cita rasanya sedap dan enak juga turut dihubungkan dengan bumbu yang diracik pakai ganja. Pelebelan Aceh sebagai daerah penghasil narkoba jenis ganja telah mencabik-cabik marwah Aceh ditingkat lokal, nasional bahkan internasional. Hal semacam ini sangat berbahaya untuk masa depan Aceh. Penegasan terhadap dampak bahaya narkoba termaktub dalam firman Allah SWT: “ Hai orang -orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) Khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan”. (Qs. Al Maidah: 90)

Narkoba adalah bahan yang berbahaya karena bisa menimbulkan kelemahan (muftir) fisik, mental, maupun intelektual. Bahaya narkoba ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah bahwasanya beliau melarang setiap zat (bahan) yang memabukkan dan melemahkan akal.

Kejayaan dan kemegahan Aceh masa lalu bukan karena kebengisan dan keangkeran masyarakatnya tetapi kemegahan dan kehormatan yang diperoleh Aceh dimata dunia Internasional karena komitmen masyarakatnya yang sangat kuat dalam mengamalkan syariat islam dan adat istiadat. Pembangunan karakter masyarakat Aceh yang arif dan kental dengan keacehannya saling memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai syariat islam. Jika salah satu fondasi kejayaan itu tidak dijadikan pegangan, kemegahan yang di cita-citakan hanya akan menjadi wacana dan angan-angan belaka.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa karakter itu dapat dilatih, dikuasai dan diubah kepada karakter yang mulia dan terpuji. Karena karakter itu adalah sifat yang tumbuh dari hati manusia dan memancarkan dampaknya kepada lingkungannya. Seseorang yang ingin hidupnya bersih, pada mulanya harus memaksakan dirinya pada membiasakan menyapu dan membuang sampah pada tempatnya. Apabila kebiasaan ini sudah lama maka paksaan tidak diperlukan lagi karena digerakkan oleh jiwa dan hatinya.

Akhlak itu ialah kebiasaan jiwa yang tetap dan terdapat dalam diri manusia yang dengan mudah menumbuhkan perbuatan-perbuatan dan tingkah laku manusia yang indah dan terpuji. Setiap manusia mempunyai potensi yang sama dalam mengembangkan nilai-nilai akhlak yang Allah anugerahkan semenjak dia dalam kandungan.”Setiap Anak itu lahir dalam keadaan bersih, putih, kemudian kedua orang tuanyalah yang menasranikan atau meyahudikannya” Akhlak itu tidak lahir dengan sendirinya tetapi harus dibidani dengan pendidikan karakter yang didasarkan atas nilai-nilai religius.

Berbagai studi tentang pengajaran agama yang efektif dan terintegrasi amat diperlukan untuk mengembalikan semangat juang asli masyarakat Aceh kepada semangat pengabdian kepada Allah, bukan mengabdi kepada materi dan kedudukan. Itulah sebabnya, mempelajari agama yang terkandung nilai moral didalamnya menjadi relevan. Masyarakat Aceh ini perlu disemangati untuk kembali meraih karakternya sebagai masyarakat yang religius, adil dan damai.

Agama dan adat istiadat mempunyai andil yang besar dalam proses pembentukan karakter seseorang, jika agama dan adat istiadat dipraktekkan secara benar, tidak ada yang membantah, terdapat hubungan positif antara agama dan adat istiadat dalam membentuk karakter yang baik. Untuk mencapai kejayaan dan kedamaian yang hakiki sekarang ini berpulang pada apakah kita masih setia menggunakan syariat islam dan adat istiadat sebagai spirit dalam membangun?. Seseorang yang menjadikan moral agama sebagai pemimpin, maka ajaran agama akan menjadi nyawa dalam setiap perilakunya. Mereka dengan sendirinya akan menjauhi narkoba dan perilaku tercela, tidak perlu pengawasan secara fisik, melainkan dalam setiap dirinya sudah ada pengawas.

Nabi Muhammad SAW mempertegas fungsi kehadirannya di muka bumi ini yaitu untuk menyempurnakan akhlak manusia. Misi nabi ini bukan misi yang sederhana, tetapi misi yang agung. Masalah moral adalah masalah besar sebagaimana yang kita fahami dari sabda nabi tersebut. Allah SWT juga menghargai akhlak yang mulia dengan harga yang fantastis sebagaimana disabdakan oleh Rasul SAW. “ Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan manusia di hari kiamat selain dari akhlak yang mulia ” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Allah SWT telah menghargai dengan harga yang tidak dapat diukur dengan akal manusia dan juga mencintai siapapun yang berakhlak mulia. Misi Rasul dan penghargaan Allah SWT tidak akan mampu diikuti dan diimbangi oleh manusia yang akalnya telah rusak dengan mengkonsumsi narkoba dan barang haram lainnya.

Untuk Aceh yang bermartabat tidak ada jalan lain selain menjadikan agama dan adat istiadat sebagai sumber moral, bahkan dalam islam, suatu bangsa yang beriman dan bertaqwa, maka tuhan menjamin negeri itu mendapat kemakmuran dan kejayaan.” Jika sekiranya penduduk ahli bumi beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,”(QS. Al- ‘Araf,7:96).

Sayangnya, agama belum menjadi inspirasi moral di daerah ini, itulah sebabnya pengguna narkoba bukan semakin berkurang tetapi terus menunjukkan peningkatan.

Islam memberikan solusi terhadap penyalahgunaan narkoba secara sangat luas dan komprehensif, baik hukum penyalahgunaan maupun ketetapan pidana yang terkait dengannya. Islam mengatur hal ini secara tegas dan lugas yang mencakup semua pihak yang terlibat dengan narkoba mulai dari produsen, distributor, pemakai, kurir, penjual, pemesan, pembayaran sampai kepada pemakai hasil penjualan sebagaimana diuraikan oleh baginda Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Orang yang kecanduan narkoba itu pada hakekatnya adalah orang yang sakit lahir bathin, bukan jasmaninya saja yang sakit, tapi rohaninya juga, bahkan kerusakan rohaninya itu lebih berat. Nabi menegaskan setiap penyakit ada obatnya, karena itu berobatlah kamu, dan jangan berobat dengan barang yang haram. (HR. Abu Dawud).

Salah satu upaya atau jalan pencegahan adalah dengan memperkokoh kembali nilai-nilai adat istiadat yang terkandung dalam ajaran Islam secara bertahap, terukur dan konsisten dibumi serambi mekah ini. Pelaksanaan adat yang bersendikan syariat merupakan benteng yang kokoh untuk menangkal kebiasaan mengkonsumsi narkoba atau perilaku amoral. Penegakan supremasi hukum dari pemerintah yang belum tegas dan adil maka pengawasan masyarakat mutlak harus dioptimalkan dengan membangun kembali adat istiadat yang bersumberkan dari Islam. Islam merupakan ajaran yang menempatkan manusia pada posisi yang teramat mulia dan tehormat.

Ayat Al-qur’an menjelaskan jaminan Allah akan adanya hak kemuliaan dan pengutamaan manusia, dengan demikian manusia mempunyai hak kemuliaan yang sangat sejalan dengan misi kerasulan Muhammad SAW yaitu “Rahmatan lil a’lamin”, dimana kemaslahatan dan kesejahteraan merupakan tawaran untuk seluruh manusia dan alam semesta. Elaborasi misi di atas disebut sebagai ushul al-khams (lima prinsip dasar) yang meliputi memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara Aqal, memelihara keturunan dan memelihara harta.

Inti dan hakikat ajaran Islam adalah kemaslahatan umat manusia (masalih Al-‘Ibad) artinya semua ajaran yang terdapat dalam Al-qur’an dan Al-hadist mengarah kepada perwujudan kemaslahatan manusia. Tidak ada satu teks pun dari ajaran agama yang mengarah kepada kerusakan dan kemafsadatan. Oleh karena itu, apa pun upaya yang dilakukan manusia dalam rangka mewujudkan kemaslahatan, kedamaian, kesejahteraan dan mencegah kerusakan dan kemafsadatan merupakan bagian dari syari’at Islam, dengan kata lain agama yang dibawa oleh Muhammad SAW berfungsi untuk menyelesaikan seluruh problematika kehidupan manusia.

Singkat kata, penyalahgunaan narkoba adalah problematika sosial yang sewajarnya untuk diantisipasi secara kolektif dan komprehensif berlandaskan kearifan lokal Aceh yaitu ajaran syariat dan adat istiadat. Karena hanya dengan panduan syariat dan adat istiadat kehidupan masyarakat Aceh dapat menjadi lebih baik dan lebih baik.

Wallahu’alam bi’ ash shawab. [Tgk. Muslem Hamdani]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *